Senin, 10 Maret 2008

Antena KU BAND

CARA INSTALASI ANTENA KU BAND


Ku Band dan C-Band …tentu pernah kita dengar, namun sedikit kita mengerti tentang kedua sinyal tersebut. Bagi kita yang suka bermain VSat tentunya tidak asing dengan kedua sinyal tersebut. Dalam tulisan ini kita akan dipaparkan bagaimana cara instalasi untuk mendpatkan sinyal Ku band.

Sinyal Ku band memiliki beamwidth (lebar berkas) lebih kecil dari C band sehingga mengakibatkan penyetelan antena parabola lebih sulit dibandingkan C band. Selain itu Diameter antena juga berhubungan dengan beamwidth C atau Ku band, dimana tuning antena yang berdiameter lebih besar akan lebih sulit dibandingkan diameter yang kecil, karena antena berdiameter besar memiliki beamwidth yang lebih sempit. Jadi menyetel antena untuk Ku band akan relatif lebih mudah pada dish berdiameter kecil (6 feet ke bawah). Sebuah antena yang telah di tuning pada Ku band akan berfungsi baik pada C band, tetapi kebalikannya, antena yang di tuning di C band belum tentu berfungsi di Ku band.

Mesh atau Solid?

Sebuah solid dish yang memiliki bentuk parabola sempurna akan memantulkan sinyal yang sama banyaknya dengan mesh dish yang memiliki 1,25 x diameternya. Jadi secara teori: 6 feet perfect solid dish = 1,25 x 6 = 7,5 feet perfect mesh dish. Untuk memilih solid atau mesh dish, adalah hal yang lebih penting apabila dish tersebut memiliki bentuk parabola yang sempurna sehingga gain yang dihasilkan maksimum. Lalu bagaimana kalau yang tersedia hanya mesh dish saja? OK, asal dish tersebut memiliki persyaratan sbb:

- Mesh memiliki lubang tidak lebih besar dari 1/4” (0,4 - 0,5 cm) atau sinyal 10-12 ghz akan 'lewat' dan tidak terpantulkan. Mekanisme mounting antena harus cukup presisi sehingga tidak mempunyai gerak (spelling) di setiap arah sumbunya, misalnya ketika antena ditiup angin dan mempunyai smooth tracking sepanjang kurva satelit, dsbnya.
- Actuator juga memiliki 'ketelitian' Ku band – tidak memiliki gerak lebih dari 1/16” ketika ditekan/diputar.


Sinyal Beam

Masalah klasik kalau ada yang bertanya “apakah saya bisa menerima siaran Ku ini dan itu?” Untuk jelasnya sebelum mengeluarkan biaya yang relatif mahal, ada baiknya melihat foot print sinyal Ku satelit yang anda inginkan untuk mengetahui apakah sinyal Ku band tersebut melingkupi daerah anda. Juga dapat bertanya dengan rekan-rekan yang sudah pernah mencoba atau berhasil.


Di bawah ini saya ambil contoh foot print satelit NSS6 95°E yang memancarkan sinyal Ku untuk spot North East Asia. Pada gambar jelas terlihat satelit tersebut tidak memancarkan sinyal untuk daerah Indonesia, tetapi untuk Philipina dengan beam pancaran terbesar 53 dbW, Jepang, Korea, dan sebagian China serta Rusia. Bila diteliti, beam sinyal terkecil adalah 42 dbW dapat diterima di sebagian kalimantan dan nyaris pulau Sumatra. Berdasarkan Tabel Perbandingan besarnya pancaran dan ukuran dish yang diperlukan, dapat kita ketahui secara teori bahwa besar minimal diameter dish yang dibutuhkan untuk dapat menerima sinyal tersebut adalah 110 cm. Selanjutnya tinggal keberuntungan anda, apakah anda tinggal di daerah yang masih di dalam cakupan sinyal Ku tersebut – walaupun hanya spill-over signal? Apakah peralatan dan setting antena anda cukup akurat, dsbnya. Bagi yang senang bereksperimen merupakan tantangan yang mengasyikkan untuk mencoba menerima sinyal 'tumpahan' tersebut dengan antena berukuran besar – 8 feet ke atas.

Satelit Ku NSS-6 95°E North Asia Spot


Tabel untuk Ku LNBF dengan Noise Figure (NF) = 0.6 - 0.7 dB Perbandingan besarnya kuat pancaran dan ukuran dish ya

ng diperlukan.


Jenis Antena

Terdapat 2 jenis dish antena yang umum digunak

an pada Ku band, yaitu Offset dan Prime focus dish. Prime focus dish adalah jenis dish antena yang biasa digunakan pada C band dimana LNBF terletak tepat di titik fokus dish. Offset dish adalah parabola dish yang dipancung sehingga memiliki luas permukaan yang lebih kecil dari dish parabola sesungguhnya. Keuntungan offset dish adalah bentuk fisik yang lebih kecil dan penerimaan sinyal Ku relatif tidak terganggu pada saat hujan dibandingkan prime focus yang terkadang harus kehilangan sinyal pada waktu hujan lebat. Kekurangannya adalah gain yang dihasilkan relatif lebih kecil dari pada parabola dengan diameter sesungguhnya – prime focus. Offset dish digunakan pada wilayah cakupan sinyal yang kuat. Untuk tingkat keberhasilan yang relatif besar disarankan menggunakan prime focus antena dan lnbf. Di tanah air beredar beberapa merk solid dish seperti Venus, Starcom,

Matrix dan Technosat.

LNBF
LNBF Ku band memiliki harga yang relatif lebih mahal (200-400 RB) dibandingkan LNBF C band. Bentuk fisik lebih kecil dan cara penempatan pada titik fokus yang berbeda. Umumnya LNBF C band memiliki tanda (berupa garis dengan angka 0 di tengah dan 30 di kiri dan kanannya) dimana garis dengan angka 0 harus diletakkan pas ke arah Timur atau Barat dan kemudian dikoreksi (putar ke kiri-kanan) sampai mendapatkan gambar/sinyal terbaik. Hal ini dapat dijelaskan dengan terdapatnya 2 antena kecil di dalam wave guide (corong lnb) dimana masing-masing berfungsi sebagai antena berpol

arisari vertikal dan horisontal. Berbeda dengan C band, Ku band LNBF memiliki hanya 1 antena yang letaknya sejajar dengan arah F konektor (terletak di dalam wave guidenya).


Gambar Offset Ku band LNBF


Ku band LNBF dibedakan 2 macam yaitu tipe Offset dan prime focus LNBF. Kedua tipe ini dipilih sesuai dengan jenis

antena yang digunakan di atas. Offset LNBF umumnya memiliki rasio f/D = 0,5 ke atas sedangkan prime focus LNBF memiliki f/D = 0,3 - 0,4. Sangat dianjurkan untuk menggunakan tipe LNBF yang sesuai dengan antena yang digunakan. Untuk menggunakan Offset LNBF pada prime focus antena boleh-boleh saja, terutama apabila sinyal Ku cukup besar beaming ke daerah anda. Tetapi sesungguhnya akan terdapat pengurangan gain yang cukup berarti karena faktor f/D yang berbeda antara LNBF dan dish. Apabila ingin hasil yang memuaskan: gunakanlah prime focus LNBF pada prime focus antena.




INSTALASI

1. Menghitung Titik Fokus

Menurut rumus kurva parabola titik fokus f (cm) adalah diameter (D) pangkat 2 dibagi dengan 16 x depth (d).

f = D2/16.d


Jadi bila menggunakan antena 6 feet (180 cm) dengan depth 30 cm, maka titik fokus f (tempat menempatkan lnbf) adalah 67,5 cm dari dasar piringan antena.
Rasio fokus/Diameternya (f/D) = 67,5 cm/ 180 cm = 0,36.


Angka f/D inilah yang kita gunakan untuk mengatur naik turunnya adjustable scalar ring pada LNBF C band. Untuk menempatkan LNBF di titik fokus diperlukan bracket yang tersedia di pasaran. Dengan bracket ini anda dapat memasang LNBF di antena tipe tripod atau singlepod. Cara menginstallnya kurang lebih sama dengan LNBF C band. Tetapi pada Ku band LNBF, arahkan garis dengan angka O pada arah UTARA atau SELATAN. Bila tidak ada garis 0 sebagai gantinya arahkan KONEKTOR sesuai dengan arah Utara atau Selatan. Kemudian atur ketinggian LNBF supaya ring terletak 67,5 cm dari dasar antena- sesuai dengan jarak titik fokus hasil perhitungan.



Gambar prime focus Ku band lnbf dan bracket

Ada yang mungkin bertanya apakah dapat memasang LNBF Ku band di samping LNBF C band yang sudah terpasang? Karena saya belum pernah mencobanya, silahkan teman lain memberikan masukan apabila pernah mencobanya.


2. Setting Local Oscilator Frequency (LOF)

Untuk universal LNBF set LOFnya 9750/10600 dan 22 Khz Auto atau LOF1 9750 dan LOF2 10600. Umumnya receiver jenis baru telah memberikan pilihan setting otomatis ketika kita memilih LO tersebut, tinggal memilih jenis LNBF universal dengan LOF 9750/10600 dsnya. Apabila menggunakan LNBF tipe lama, set LOF=9750 dengan switch 22 Khz OFF untuk low band 10,7-11,7 Ghz dan LOF=10600 dengan switch 22 Khz ON untuk high band 11,7-12,75 Ghz. Cara setting ini dapat berbeda tergantung dari receiver yang digunakan.


3. Tips Mencari sinyal

Cara termudah, gunakanlah sinyal C band untuk mencari arah kurva (Timur-Barat) satelit terlebih dulu. Untuk mencari sinyal, tune antena pada salah satu frequensi/sinyal C band analog atau digital. Setelah didapatkan sinyal quality dan sinyal strength terbaik, ganti LNBF dengan Ku band dan scan di freq yang anda inginkan. Bila sinyal strength besar tetapi sinyal qualitynya 0 atau kecil, koreksi Deklinasi (Arah Utara – Selatan) dengan mur setelan di antena. Perhatikan bahwa 1 - 2 kali putaran baut Deklinasi tersebut dapat memiliki perbedaan yang sangat besar: Sinyal quality dari 0 – 100 %. Dari percobaan-percobaan yang telah saya lakukan, tipe mounting seperti pada gambar memberikan hasil yang paling akurat dan waktu penyetelan yang cepat.



Gambar mur setelan Deklinasi


Hal lain yang perlu diperhatikan adalah frequency, symbol rate, dll. pada satu NBF/Receiver dengan lnbf/receiver lainnya tidak mutlak sama. Hal ini besar pengaruhnya pada Ku band, tidak seperti halnya C band. Misalnya Siaran A pada Freq. 12.000 Mhz Hor SR:10.000 k/s pada receiver X belum tentu sama dengan receiver Y, Z dsbnya. Pada receiver Y mungkin sinyal quality baru stabil/lock pada 12.002 Mhz dengan SR: 10.001 k/s dan di receiver Z pada 12.004 Mhz SR: 10.003 k/s, dstnya. Ini menjelaskan kenapa terkadang sulit untuk mencari sinyal Ku band berdasarkan informasi dari Web site atau teman, yang pada C band tidak pernah/jarang ditemukan. Anda harus berimprovisasi – play with your remote! Setelah melakukan semua langkah diatas tetapi anda masih belum mendapatkan sinyal yang dicari? Satu hal yang paling mungkin adalah karena anda telah menggunakan tiang / post yang memiliki diameter yang lebih kecil dari diameter mounting antena. Sehingga usaha berjamjam untuk mencari sinyal menjadi sia-sia karena antena memilih gerak (meskipun sedikit, tetapi tidak bisa ditolerir untuk Ku band) bebas ke dua sumbu. Pemecahannya adalah perbaiki diameter tiang dengan diameter yang pas dengan mounting antena sehingga tidak memiliki gerakan lagi. Bisa dengan mengganti dengan tiang baru atau menambahkan pipa berdiameter lebih besar sepanjang pipa mounting (plus 10-20 cm). Diameter luar pipa/tiang yang sering ditemukan adalah 7,5 cm sedangkan pada beberapa produk antena, diameter bagian dalam mounting adalah 8-8,5 cm.

Selasa, 04 Maret 2008

Belajar Fiber Optic

wiuh...teknologi smakin berkembang ya...sungguh beruntungnya manusia diberkahi Tuhan dengan akal pikiran sehingga kita dapat mengembangkan pemikiran2... Saat ini kita akan mencoba membongkar teknologi Fiber Optik. Apa sih yang dimaksud fiber Optik?????

Fiber Optik

Fiber optik adalah sebuah kaca murni yang panjang dan tipis serta berdiameter sebesar rambut manusia. Dan dalam pengunaannya beberapa fiber optik dijadikan satu dalam sebuah tempat yang dinamakan kabel optik dan digunakan untuk mengantarkan data digital yang berupa sinar dalam jarak yang sangat jauh.


Core adalah kaca tipis yang merupakan bagian inti dari fiber optik yang dimana pengiriman sinar dilakukan.

Buffer Coating adalah plastic pelapis yang melindungi fiber dari kerusakan.


Jenis Fiber Optik

1. Single-mode fibers

Mempunyai inti yang kecil (berdiameter 0.00035 inch atau 9 micron) dan berfungsi mengirimkan sinar laser inframerah (panjang gelombang 1300-1550 nanometer)

2. Multi-mode fibers

Mempunyai inti yang lebih besar(berdiameter 0.0025 inch atau 62.5 micron) dan berfungsi mengirimkan sinar laser inframerah (panjang gelombang 850-1300 nanometer)

Sinar dalam fiber optik berjalan melalui inti dengan secara memantul dari cladding, dan hal ini disebut total internal reflection, karena cladding sama sekali tidak menyerap sinar dari inti. Akan tetapi dikarenakan ketidakmurnian kaca sinyal cahaya akan terdegradasi, ketahanan sinyal tergantung pada kemurnian kaca dan panjang gelombang sinyal.

Keuntungan Fiber Optik

  • Murah : jika dibandingkan dengan kabel tembaga dalam panjang yang sama.
  • Lebih tipis: mempunyai diameter yang lebih kecil daripada kabel tembaga.
    Kapasitas lebih besar.
  • Sinyal degradasi lebih kecil.
  • Tidak mudah terbakar : tidak mengalirkan listrik.
  • Fleksibel.
  • Sinyal digital.

Bagaimana Fiber Optik Dibuat

Making a preform glass cylinder

Proses ini disebut modified chemical vapor deposition (MCVD).
Silikon dan germanium bereaksi dengan oksigen membentuk SiO2 dan GeO2.
SiO2 dan GeO2 menyatu dan membentuk kaca.

Proses ini dilakukan secara otomatis dan membutuhkan waktu beberapa jam.

Drawing the fiber from the perform

Setelah proses pertama selesai preform dimasukkan kedalam fiber drawing tower.
Kemudian dipanaskan 1900-2200 derajat celcius sampai meleleh.
Lelehan tersebut jatuh melewati laser mikrometer sehingga preform membentuk benang.
Dilakukan proses coating dan UV Curing.

Testing the Finished Optical Fiber :

  • Tensile strength: harus mampu menahan 100.000 lb/inch2 atau lebih.
  • Refractive index profile : menghitung layar untuk pemantulan optik.
  • Fiber geometry : diameter Core, dimensi cladding, diameter cloating adalah seragam.
  • Attenuation : menghitung kekuatan sinyal dari berbagai panjang gelombang dan jarak.
  • Information carrying capacity : bandwith
  • Chromatic dispersion : penyebaran berbagai panjang gelombang sinar melalui core.
  • Operating temperature

Sebuah kabel serat optik dibuat sekecil-kecilnya (mikroskopis) agar tak mudah patah/retak, tentunya dengan perlindungan khusus sehingga besaran wujud kabel akhirnya tetap mudah dipasang. Satu kabel serat optik disebut sebagai core. Untuk satu sambungan/link komunikasi serat optik dibutuhkan dua core, satu sebagai transmitter dan satu lagi sebagai receiver. Variasi kabel yang dijual sangat beragam sesuai kebutuhan, ada kabel 4 core, 6 core, 8 core, 12 core, 16 core, 24 core, 36 core hingga 48 core. Satu core serat optik yang terlihat oleh mata kita adalah masih berupa lapisan pelindungnya (coated), sedangkan kacanya sendiri yang menjadi inti transmisi data berukuran mikroskopis, tak terlihat oleh mata.


Bentuk kabel dikenal dua macam, kabel udara (KU) dan kabel tanah (KT). Kabel udara diperkuat oleh kabel baja untuk keperluan penarikan kabel di atas tiang. Baik KU maupun KT pada lapisan intinya paling tengah diperkuat oleh kabel khusus untuk menahan kabel tidak mudah bengkok (biasanya serat plastik yang keras). Di sekeliling inti tersebut dipasang beberapa selubung yang isinya adalah core serat optik, dilapisi gel (katanya berfungsi juga sebagai racun tikus) dan serat nilon, dibungkus lagi dengan bahan metal tipis hingga ke lapisan terluar kabel berupa plastik tebal. Dari berbagai jenis jumlah core, besaran wujud akhir kabel tidaklah terlalu signifikan ukuran diameternya.

Memotong kabel serat optik sangat mudah, cukup menggunakan gergaji kecil. Sering terjadi maling-maling tembaga salah mencuri, niatnya mencuri kabel tembaga yang laku di pasar besi/loak malah menggergaji kabel serat optik. Yang sulit adalah mengupasnya, namun hal ini dipermudah dengan pabrikan kabel menyertakan serat nilon khusus di bawah lapisan terluar yang keras sehingga cukup dikupas sedikit dan nilon tersebut berfungsi membelah lapisan terluar hingga panjang yang diinginkan untuk dikupas.

Untuk apa dikupas? Tentunya untuk keperluan penyambungan atau terminasi. Kita lihat dulu bagaimana pulsa cahaya bekerja di dalam serat kaca yang sangat sempit ini. Kabel serat optik yang paling umum dikenal dua macam, multi-mode dan single-mode. Transmitter cahaya berupa Light Emitting Diode (LED) atau Injection Laser Diode (ILD) menembakkan pulsa cahaya ke dalam kabel serat optik. Dalam kabel multi-mode pulsa cahaya selain lurus searah panjang kabel juga berpantulan ke dinding core hingga sampai ke tujuan, sisi receiver. Pada kabel single-mode pulsa cahaya ditembakkan hanya lurus searah panjang kabel. Kabel single-mode memberi kelebihan kapasitas bandwidth dan jarak yang lebih tinggi, hingga puluhan kilometer dengan skala bandwidth gigabit.


Inti kaca kabel single-mode umumnya berdiameter 8,3-10 mikron (jauh lebih kecil dari diameter rambut), dan pada multi-mode berukuran 50-100 mikron. Pulsa cahaya yang ditembakkan pada single mode adalah cahaya dengan panjang gelombang 1310-1550nm, sedangkan pada multi-mode adalah 850-1300nm.

Ujung kabel serat optik berakhir di sebuah terminasi, untuk hal tersebut dibutuhkan penyambungan kabel serat optik dengan pigtail serat optik di Optical Termination Board (OTB), bisa wallmount atau 1U rackmount. Dari OTB kabel serat optik tinggal disambung dengan patchcord serat optik ke perangkat multiplexer, switch atau bridge (converter to ethernet UTP).

Penyambungan kabel serat optik disebut sebagai splicing. Splicing menggunakan alat khusus yang memadukan dua ujung kabel seukuran rambut secara presisi, dibakar pada suhu tertentu sehingga kaca meleleh tersambung tanpa bagian coated-nya ikut meleleh. Setelah tersambung, bagian sambungan ditutup dengan selubung yang dipanaskan. Alat ini mudah dioperasikan, namun sangat mahal harganya. Inilah sebabnya meskipun harga kabel fiber optik sudah jauh lebih murah namun alat dan biaya lainnya masih mahal, terutama pada biaya pemasangan kabel, splicing dan terminasinya.

Pigtail yang disambungkan ke kabel optik bisa bermacam-macam konektornya, yang paling umum adalah konektor FC. Dari konektor FC di OTB ini kita tinggal menggunakan patchcord yang sesuai untuk disambungkan ke perangkat. Umumnya perangkat optik seperti switch atau bridge menggunakan konektor SC atau LC. Cukup menyulitkan ketika menyebut jenis konektor yang kita kehendaki kepada penjual, FC, SC, ST, atau LC.


Setelah kabel optik terpasang di OTB dilakukan pengujian end-to-end dengan menggunakan Optical Time Domain Reflectometer (OTDR). Dengan OTDR akan didapatkan kualitas kabel, seberapa besar loss cahaya dan berapa panjang kabel totalnya. Harga perangkat OTDR ini sangat mahal, meskipun pengoperasiannya relatif mudah. OTDR ini digunakan pula pada saat terjadi gangguan putusnya kabel laut atau terestrial antar kota, sehingga bisa ditentukan di titik mana kabel harus diperbaiki dan disambung kembali.

Untuk keperluan sederhana misalnya sambungan fiber optik antar gedung pada jarak ratusan meter (hingga 15km) kini teknologi bridge/converter-nya sudah semakin murah dengan kapasitas 100Mbps, sedangkan untuk full gigabit harga switch/module-switch-nya masih mahal. Jadi, meskipun harga kabel serat optik sudah di kisaran Rp10.000/m namun total pemasangannya membengkak karena ada biaya SDM yang menarik dan memasang kabel, biaya splicing setiap core-nya, pemasangan OTB, pengujian OTDR, penyediaan patchcord dan perangkat optiknya sendiri (switch/bridge).

ada 2 tipe design kabelnya

1.Loose-tube construction (buat instalasi di luar ruangan)

2.Tight buffer construction (buat di dalam gedung)


Kabel fiber optic ini juga gak ada interfen ke kabel fiber lain. Gak ada gannguan crosstalk seperti pada copper media.Tapi bukan berarti media ini sempuran ato kagak ada gangguannya, kalo instalasi nya kagak beres. bisa terjadi

  • Scattering
  • Microbend, Macrobend
  • Masalah splicing yg gak bener

Kamis, 28 Februari 2008

Belajar VSat 2

Setelah kita tahu bagian dari parabola, mari kita coba belajar mengsetup pemasangan antena parabola.

Pengaturan Dasar untuk Antena Satelit

Pada kebanyakan kasus,dengan mudah mencabut kabel dari receiver analog kemudian memasang kabel antena tersebut ke receiver digital yang baru. Pengaturan umum arah antenna tidak berubah, kecuali jika antenna tidak terarah dengan benar sebelumnya dan memerlukan pengarahan ulang. Semua hal ini tidak akan menimbulkan masalahbesar. Jika antena baru harus dipasang untuk pertama kalinya, bagaimanapun, tanpa hadirnya sinyal analog akan timbul kesulitan. Karena sinyal digital lebih sulit ditemukan daripada sinyal analog, pencarian sudut antena yang benar dan arahnya akan memerlukan waktu yang lebih lama daripada sebelumnya. Pada era analog sangat mudah menggerakkan antena sampai muncul gambar bayang-bayang di layar TV. Dengan hanya memerlukan sedikit ‘fine-tuning’ maka akan tampil gambar yang bersih di layar TV. Hal ini tidak

mungkin lagi dilakukan dalam penerimaan satelit digital. Sinyal digital yang lemah tidak akan menghasilkan gambar di layer yang tetap gelap hingga kekuatan sinyal melewati batasan tertentu (sekitar 30%) dan gambar yang sebening kristal akan muncul di TV Anda. Jika Anda tidak tahu pasti dimana untuk mencari satelit

Digitalisasi saluran satelit maju dengan cepat dan segera tidak akan ada lagi saluran satelit analog di Eropa. Setelah konversi ini selesai maka receiver analog lama menjadi tidak berguna dan harus diganti dengan receiver digital. yang diinginkan maka pencarian Anda akan sia-sia. Sepanjang masih ada tertinggal beberapa sinyal analog, sebuah receiver analog untuk pengarahan antenna akan melakukan pekerjaan yang sempurna. Akan tetapi apa yang akan dilakukan setelah sinyal

analog tidak ada lagi? Dalam hal ini akan diperlukan sebuah pendekatan yang sistematik. Jika hanya sebuah satelit yang akan diterima, maka pengarahan antena dapat ditetapkan pada posisi tersebut. Untuk dapat mengarahkan antena secara tepat, sudut elevasi harus diatur sebagaimana mestinya dengan menggunakan skala yang terdapat di tiang antena. Akan tetapi, elevasi yang tepat bergantung pada derajat Lintang setempat. Berikut adalah nilai untuk satelit di posisi selatan tepat. (di posisi utara tepat jika dilihat dari belahan selatan):

Lintang 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65

Elevasi 72 67 61 55 49 44 38 33 27 22 17

Untuk satelit dengan beberapa derajat ke Timur atau Barat maka elevasinya akan menurun. Untuk perbedaan 10-derajat elevasi akan menurun maksimum 1 derajat. Selanjutnya, pencarian sinyal dapat dimulai dengan menggerakkan antena menuju posisi satelit yang diinginkan. Untuk dapat memeriksa keberhasilan pencarian di layer TV, receiver harus ditala pada salah satu saluran di satelit tersebut. Tentu saja receiver baru mempunyai daftar saluran yang telah terprogram, maka tidak akan menjadi masalah dalam pemilihan saluran yang sesuai. Akan tetapi, karena data transponder bisa saja

berubah, maka dianjurkan untuk memeriksa data yang tersimpan

dengan daftar frekuensi terkini di SatcoDX. Sayang sekali tidak terdapat skala di tiang untuk memutar antena ke Timur atau Barat. Hal ini membuat penentuan arah yang tepat menjadi sesulit pada antenna bermotor yang memungkinkan penerimaan lebih banyak saluran tanpa biaya tambahan.